Metode Mengajar Yesus

Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Dalam mengajar, Yesus menggunakan beberapa metode dan tidak terikat pada satu metode saja. Dia beralih dengan sangat lembut dari yang dikenal ke yang tidak dikenal; dari yang sederhana ke hal-hal yang rumit; dari hal-hal yang konkret ke hal-hal yang abstrak. Suatu kebebasan yang sesungguhnya, muncul dalam kemampuan metodologisnya dan dengan objektivitas yang cukup jelas. Dia bukanlah seorang penghibur melainkan seorang pendidik. Dia menginginkan lebih dari perhatian yang besar; Dia menjanjikan untuk mengubah hidup.

Tak seorang pun bisa menuduh Yesus memotong filosofi pendidikan. Dia memahami bahwa semua pembelajaran melibatkan suatu proses. Dia tidak hanya tahu apa yang akan diajarkan-Nya, tetapi Ia juga mengerti apa yang diajarkan-Nya. Belajar lebih dari sekedar mendengarkan; mengajar lebih dari sekedar mengatakan. Bagaimanakah Yesus bisa menjadi begitu efektif tanpa menggunakan bel atau pun jadwal, sebuah ruang kelas yang bagus, dan sebuah OHP atau layar?

Berikut ini beberapa kunci keefektivitasan-Nya. Ajaran Yesus memiliki sifat bisa dibedakan dan dipindahkan/disalurkan.

AJARAN YESUS ITU KREATIF

Tidak ada pola pengajaran yang sama dengan pola pengajaran Yesus. Sangat sulit untuk menemukan bahwa Yesus menggunakan hal yang sama dalam cara yang sama. Seseorang membaca Kitab Suci dengan harapan untuk menemukan apa yang selanjutnya akan dilakukan dan dikatakan oleh Yesus. Kita melihat kekreativitasan-Nya seperti berikut ini

:
  1. Dia menggunakan pertanyaan-pertanyaan.

    Cara ini merupakan inti dari metode pengajaran-Nya. Empat Injil menuliskan lebih dari seratus pertanyaan berbeda yang digunakan. Beberapa dari pertanyaan-Nya dilontarkan secara langsung dan dengan sederhana memberikan informasi yang penting, beberapa penjelasan dari ketidakpastian yang dipikirkan oleh pendengar- Nya, dan ekspresi yang muncul atas iman mereka. Misalnya, "Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?" (Matius 9:28)

    Robert Stein, dalam bukunya yang berjudul "The Method and Message of Jesus Teaching", mengatakan bahwa:

    "Dia menggunakan pertanyaan dalam berbagai variasi dan dalam berbagai situasi. Salah satu cara yang digunakan Yesus dalam menggunakan pertanyaan adalah dengan menggambarkan jawaban yang benar bagi pendengar-Nya. Dengan menggambarkan jawaban yang benar kepada murid-murid-Nya, maka jawaban tersebut akan lebih menyakinkan dan selalu mereka ingat daripada hanya diucapkan oleh Yesus. Inti dari keseluruhan penginjilan-Nya terpusat pada peristiwa di Kaisarea, Filipi dimana Yesus menanyai murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Aku ini?" Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi." Ia bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Petrus: "Engkau adalah Mesias!" Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapapun tentang Dia. Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam- imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang." (Markus 8:27-32)

    Seringkali, pertanyaan yang dilontarkan-Nya secara langsung mengharuskan pendengar-Nya membandingkan, memeriksa, mengingat, dan mengevaluasi. Pertanyaan-pertanyaan hipotesa memberikan suasana solusi bagi pendengar-Nya. Seperti yang tertera pada Matius 21:31, "Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" atau seperti yang terdapat di Lukas 10:36, "Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?"

    Yesus dikenal mahir dalam menangani pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada-Nya, bahkan ketika mereka ingin menjebak-Nya. Di dalam Markus 12:13-34, Yesus mendiskusikan tiga hal:

    1. Pajak kepada Kaisar
    2. Pernikahan pada Kebangkitan hidup
    3. Hukum yang Terutama
    Setiap pertanyaan sangatlah berbeda dan pendengar-Nya sangat puas dengan jawaban-jawaban yang diberikan, sehingga mereka tidak lagi memiliki pertanyaan yang akan ditanyakan pada waktu itu.

  2. Dia menggunakan perumpamaan.

    Yesus adalah ahli dalam bercerita. Ajaran-Nya menggugah pikiran; bukan melumpuhkan pikiran. Perumpamaan adalah bentuk yang paling terkenal dari ciri-ciri ajaran-Nya yang secara kreatif melibatkan orang-orang dalam proses belajar. Markus mencatat bahwa Yesus, "Mengajarkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka." (Markus 4:2)

    Archibald Hunter mengklaim bahwa 35 persen dari ajaran Yesus dalam keempat kitab Injil berbentuk perumpamaan. (Richard A. Batey, ed. New Testament Issues. New York: Harper and Row, 1970, p.71.)

    Ada sebuah pertanyaan yang berupa kritik, "Mengapa Yesus sangat sering menggunakan perumpamaan?" Kembali, Robert Stein memiliki ayat yang tepat dalam "Perumpamaan Yesus" yang diringkas-Nya menjadi tiga alasan:

    1. Untuk menyembunyikan ajaran-ajaran-Nya dari orang-orang di luar-Nya (Markus 4:10-12; Matius 11:25-27).
    2. Untuk mengilustrasikan dan menyatakan pesan-pesan-Nya kepada murid-murid-Nya (Markus 4:34).
    3. Untuk menenangkan pendengar-Nya (Markus 12:1-11; Lukas 15:1-2).

    Yesus menggunakan berbagai metode yang kreatif seperti:

    • Pernyataan yang benar-benar ditekankan (Markus 5:29-30).
    • Peribahasa (Markus 6:4)
    • Paradok (Markus 12:41-44)
    • Ironi (Matius 16:2-3)
    • Hiperbola (Matius 23:23-24)
    • Teka-teki (Matius 11:12)
    • Kiasan (Lukas 13:34)
    • Permainan kata (Matius 16:18)
    • Sindiran (Yohanes 2:19)
    • Metafora (Lukas 13:32)

AJARAN YESUS ADALAH UNIK

Setiap ajaran digunakan dan dipilih untuk menyesuaikan dengan situasi dan kebutuhan dari pendengar-Nya. Setiap pertemuan sangatlah berbeda karena Dia tahu apa yang ada dalam diri setiap orang secara umum dan secara individu (Yohanes 2:24-25). Ketiga percakapan selanjutnya (Nikodemus, wanita Samaria, dan perwira di Kapernaum), menunjukkan kemampuan-Nya untuk membuat persetujuan secara cekatan dan unik dengan tiga pribadi yang berbeda. Tujuannya adalah sama- untuk membawa mereka ke dalam iman. Metodologi yang digunakan adalah berbeda.

Dia mengajarkan kebenaran "semampu mereka untuk memahami" (Markus 4:33). Seperti yang ditulis oleh LeBar:

"Belajar adalah proses, biasanya bertahap, tetapi kadang-kadang ditandai dengan peristiwa-peristiwa besar yang menunjukkan peningkatan yang pesat."

Yesus tidak berusaha untuk menyimpan pendekatan-pendekatan pendidikan. "Camkanlah ini karena suatu hari nanti engkau akan memerlukannya." Dia tidak berada di bawah tekanan untuk mengajarkan berbagai hal yang ingin diketahui oleh murid-murid-Nya meskipun Dia adalah kebenaran itu sendiri (Yohanes 14:6). Kita tidak pernah melihat-Nya menjejalkan ajaran-ajaran agama kepada orang lain. Dia tidak pernah menyuruh orang lain untuk mengingat dan mengulangi jawaban-jawaban-Nya. Dia percaya sepenuhnya bahwa Roh Kudus akan menuntun mereka ke dalam seluruh kebenaran (Yohanes 16:13).

Juruselamat selalu mulai dari di mana orang berada -- dengan pertanyaan-pertanyaan, kebutuhan, kepedihan, dan kepentingan mereka. Dia tahu bagaimana mendengarkan orang lain dan mengunci komentar mereka. Dia menjadi satu dengan mereka; Dia dapat beradaptasi dengan berita-berita yang ada; Dia dapat mengikuti mereka tanpa mereka sadari.

Kristus tidak pernah melepaskan budaya-Nya. Bahasa yang digunakan- Nya selalu disesuaikan dengan pengalaman orang lain -- pekerjaan, masalah-masalah sosial, adat istiadat, kehidupan keluarga, sifat, dan konsep agama mereka.

Perhatikan, Yesus mengunakan elemen-elemen yang mengejutkan dengan wanita Samaria (meminta minum, Yohanes 4:7-9); yang dipegang seorang anak (Matius 18:2); mata uang (Markus 12:15); dan jala (Lukas 5:4).

AJARAN YESUS ADALAH MENGIKAT

Orang tidak akan berpikir jika tidak diminta untuk melakukannya. Kapasitas penyelesaian masalah adalah dengan menggunakan Injil. Yesus tidak hanya menyelesaikan masalah untuk orang lain tetapi juga dengan orang lain; mereka selalu dilibatkan dalam proses ini.

Dia mengikat orang lain dengan memberikan suatu perkara, dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan, dengan menggunakan pengulangan, dengan bercerita, atau hanya dengan diam saja.

Agar dapat menggunakan metodologinya secara fleksibel, seseorang tidak hanya harus tahu apa yang dipelajarinya secara keseluruhan, dia juga harus memiliki tujuan yang ingin dicapainya ketika membimbing murid-muridnya. Tuhan kita mendorong secara informal tetapi bukan tanpa tujuan.

Lukas 10:25-37 (perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati), merupakan sebuah kasus klasik dari Guru terbesar yang melibatkan seorang pengacara untuk mengetahui kebenaran dari dirinya sendiri. Yesus bukannya menjawab pertanyaannya tetapi Ia justru bertanya tentang jawaban yang diberikan kepada-Nya.

AJARAN YESUS ITU MEMBANGUN

Tujuan Allah kita adalah untuk membawa orang lain dari tempat asal mereka ke tempat mereka yang seharusnya. Percakapan Yesus dengan wanita Samaria itu adalah suatu pelajaran tentang keahlian Yesus yang tak tertandingi (Yohanes 4).

Yesus menghancurkan semua rintangan yang ada -- budaya, ras, jenis kelamin, dan agama -- dan mengubah dia (wanita Samaria) menjadi seorang penginjil di lingkungannya. Itulah perubahan.

Tetapi, bagaimana perubahan yang radikal ini bisa terjadi? Becky Pippert secara tajam mengamati:

"Wanita Samaria itu telah memiliki lima suami dan saat itu, ia tinggal dengan suami keenamnya. Para murid memandangnya dan merasa, "Wanita itu? Menjadi orang Kristen? Tidak bisa, mengapa hanya melihat gaya hidupnya saja!" Tetapi Yesus melihatnya dan membuat kesimpulan yang sebaliknya. Apa yang dilihat Yesus dalam ketakutannya untuk berharap kepada pria, bukan hanya sekedar rasa kehilangan. Bukanlah kebutuhan manusiawinya untuk mendapatkan kelembutan yang menyentuh-Nya tetapi bagaimana ia mencari untuk mendapatkan yang ia perlukan. Bahkan, Yesus melihat bahwa kebutuhannya menandakan kehausannya akan Tuhan. Dia ingin mengatakan kepada murid-murid, "Lihatlah apa yang ia perbuat untuk Tuhan. Lihatlah betapa kerasnya ia berusaha untuk mendapatkan hal yang benar pada semua tempat yang salah." (Pippert, p. 119)

Ini adalah hasil dari melihat orang lain dengan pandangan mata secara radikal (Yohanes 4:34-35).

Dia menantang orang Farisi, "Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan" (Matius 9:13). Yesus tidak pernah memaksakan keputusan- keputusan tetapi Ia mendorong orang lain untuk membuat keputusan. Dengan sabar, Ia mulai memperlajari pengalaman murid-murid-Nya dan mereka yang bergaul dengan-Nya.

Melalui Allah, kita belajar bahwa pengajaran yang baik itu meliputi menolong murid untuk bertanggung jawab atas pemikiran dan hidupnya. Dia selamanya akan mendorong dan memampukan orang lain untuk membuat keputusan terbaik yang mungkin bisa dilakukan.

Membimbing orang lain dalam nama Yesus adalah suatu hak yang besar dan suatu tanggung jawab yang harus diemban; menyesatkan seseorang adalah hal yang dibenci-Nya (Matius 18:6). Jadi, sudah siapkah Anda untuk mengajar seperti Yesus?

Kategori Bahan PEPAK: Metode dan Cara Mengajar

Sumber
Judul Artikel: 
Following The Master Teacher: The Method
Judul Buku: 
The Christian Educator's Handbook On Teaching
Pengarang: 
Kenneth O. Gangel and Howard G. Hendricks
Halaman: 
24 - 28
Penerbit: 
Scripture Press Publications
Kota: 
USA
Tahun: 
1988