Membimbing Murid yang Mengalami Stres


Jenis Bahan PEPAK: Tips

Berikut ini salah satu konseling yang bisa dilakukan dalam pelayanan sekolah minggu untuk membimbing murid yang mengalami stres. Bagaimana stres bisa memengaruhi keadaan anak dan bagaimana guru sekolah minggu bisa membimbing mereka? Silakan simak tips berikut ini.

Banyak orang tua yang mengatur jadwal anak-anak mereka dalam satu minggu dengan pertemuan-pertemuan, pelajaran-pelajaran, kegiatan kelompok, dan klub. Dengan kegiatan yang padat ini, mereka berharap akan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk belajar dan bertumbuh.

Beberapa anak ada yang mengalami pekembangan pesat melalui kegiatan- kegiatan seperti ini. Namun, anak-anak lain justru menjadi kewalahan dan jenuh. Jika para orang tua, pelatih, dan guru menilai harga seorang anak hanya dari kemampuan/prestasi yang dicapainya, kegiatan-kegiatan yang seharusnya memberikan manfaat itu dapat menghilangkan semangat anak yang dianggap "biasa-biasa saja".

Jadwal yang terlalu padat hanya merupakan satu dari berbagai sumber stres pada anak. Salah satu penyebab stres pada anak yang paling umum adalah anak yang berada dalam keluarga yang berantakan. Kehilangan orang tua karena kematian atau perceraian dapat menyebabkan anak suka merengek dan mengompol kembali. Bahkan dalam keluarga yang paling baik sekalipun, pindah ke suatu lingkungan tempat tinggal yang baru dapat mengakibatkan kemunduran emosional pada anak. Lahirnya saudara kandung atau saudara tiri sangat membutuhkan penyesuaian dalam emosi dan kestabilan sosial anak. Hidup dalam lingkungan atau sekolah yang rawan akan menimbulkan kecemasan, sementara stres pada anak dapat menjadi pertanda keluarga yang salah satu atau kedua orang tuanya adalah pecandu, peminum, atau berperilaku kejam.

  1. Bagaimana seorang guru dapat mengetahui bahwa stres menimbulkan berbagai masalah pada anak?

    1. Bicarakan secara informal dengan anak. Tanyakan, namun jangan dengan nada menginterogasi. "Apa yang ingin kamu lakukan untuk bersenang-senang?"; "Permainan apa yang kamu mainkan dengan keluargamu?" Berikan perhatian pada gerak tubuh, ekspresi, dan suasana hati. Anak-anak yang masih kecil sangat cepat berubah suasana hatinya, namun seorang anak yang bermasalah akan terus- menerus sedih atau bersikap memusuhi.
    2. Waspadailah kondisi kehidupan anak di rumah. Apakah dia anak tunggal? Apakah hanya ada satu orang tua di rumah? Apakah orang tua memaksa anak untuk berprestasi? Pada saat orang tua bertanya, "Apakah Jack memenangkan lomba ayat? Kakaknya selalu menang pada saat seusia Jack"--guru dapat memahami bahwa Jack berada di bawah tekanan.
    3. Perhatikan anak yang tidak mau berpartisipasi pada kegiatan karena takut gagal. Anak yang seperti ini memiliki masalah gambar diri yang serius. Seorang anak yang tidak pernah puas dengan penampilannya sendiri telah dituntut oleh orang tuanya supaya selalu sempurna. Perhatikan gundukan kertas yang diremas-remas dan banyaknya hapusan. Perhatikan juga perilaku yang terlalu agresif atau keras kepala. Anak-anak mungkin melepaskan kecemasan mereka dengan menjadi dominan, berkelahi, atau menggunakan kata-kata kemarahan.

  2. Bagaimana seorang guru dapat membimbing anak yang berada dalam tekanan?

    1. Kuatkan anak yang memiliki gambar diri yang rendah. Yakinkan anak tersebut bahwa setiap orang dapat melakukan kesalahan. Guru yang dapat mengakui dan menertawakan kesalahannya sendiri akan menjadi contoh yang sehat. Ingatkan anak bahwa Bapa di surga mengasihi mereka apa adanya.
    2. Kurangi ketegangan di dalam kelas. Seorang pendisiplin yang baik dapat memberlakukan peraturan dalam suasana yang rileks/ santai. Jangan terburu-buru hanya karena ingin menyelesaikan rencana pelajaran Anda--bersikaplah fleksibel. Tetapkan standar perilaku sesuai dengan kelompok usia mereka.
    3. Tanyakan pertanyaan terbuka yang dapat dijawab secara subjektif. Hindari untuk selalu memberikan pertanyaan yang jawabannya hanya ada satu yang benar. Anak-anak yang takut gagal akan memberikan respons negatif terhadap pertanyaan atau hafalan yang menjadikan mereka sebagai sasaran.
    4. Batasilah kompetisi dan persaingan. Anak-anak senang menjadi menang, namun mereka akan kecewa pada saat mereka kalah. Kompetisi biasanya menimbulkan satu pemenang dan yang lainnya kalah. Bagi anak yang sudah terlanjur merasa dirinya sebagai orang yang kalah, hal ini dapat berakibat serius.
    5. Jangan pernah membandingkan penampilan seorang anak dengan anak yang lain. Hal ini akan menimbulkan kekesalan dan perasaan pada anak bahwa dia diharuskan diukur sesuai standar orang lain. Berikan pujian untuk usaha-usaha yang dilakukan anak guna meningkatkan penampilannya.
    6. Ketahuilah tanda-tanda penting dari penganiayaan. Kecemasan dan depresi dapat disebabkan karena obat atau alkohol, dan anak-anak sekolah dasar bukannya tidak mungkin mengalami kecanduan. Penyebab utama kecanduan bisa saja berasal dari anggota keluarga.

Para psikolog mengatakan bahwa 3/4 dari kira-kira delapan juta anak dan remaja yang mengalami masalah emosi tidak mendapatkan pertolongan. Kira-kira satu dari empat anak memerlukan konseling psikologis sebelum masuk ke kelas enam. Para guru harus menyediakan waktu untuk menjadi teman dan konselor bagi murid-murid mereka. Ketika suatu masalah serius muncul, bicarakanlah dengan anggota gereja yang dapat memberikan pendampingan atau tunjukkan keluarga- keluarga yang dapat memberikan bantuan. (t/ratri)

Kategori Bahan PEPAK: Pelayanan Sekolah Minggu

Sumber
Judul Buku: 
The Complete Handbook for Children Ministry: How to Reach and Teach Next Generation
Pengarang: 
Dr. Robert J. Choun & Dr. Michael S. Lawson
Halaman: 
311--313
Bab: 
Stres in Children: Helping Youngsters Cope with It
Penerbit: 
Thomas Nelson Publishers
Kota: 
Nashville
Tahun: 
1993

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK

Komentar