Melihat Anak-Anak Melalui Lensa Kisah Besar Allah

Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Kategori Bahan PEPAK: Pelayanan Anak Umum

Pelayanan anak-anak adalah salah satu tantangan terbesar yang mungkin dihadapi gereja. Ada banyak hal yang harus dipikirkan -- fasilitas, kurikulum, pendaftaran, keamanan, serta perekrutan dan pelatihan tim yang berkualitas! Sulit untuk mengetahui dari mana harus memulai. Saya telah berbicara dengan para pendeta yang memiliki visi yang jelas untuk berkhotbah dan beribadah, tetapi pelayanan anak-anak membingungkan mereka. Salah satu praktik yang dapat membantu adalah dengan sengaja memikirkan anak-anak melalui lensa kisah besar Allah.

Alur cerita Alkitab dapat diringkas sebagai gerakan empat komponen: penciptaan, kejatuhan, penebusan, dan penyempurnaan. Apa yang diajarkan alur cerita ini kepada kita tentang anak-anak?

1. Allah menciptakan anak-anak untuk diri-Nya sendiri.

melihat anak

Anak-anak diciptakan dengan dahsyat dan ajaib (Mzm. 139:14, AYT). Kehidupan mereka dipenuhi dengan kemuliaan alam semesta yang mencerminkan keindahan Allah; mereka telah diberkati dengan imajinasi dan kemampuan untuk berpikir dan mengetahui. Kehidupan seorang anak memiliki nilai karena ia diciptakan menurut gambar Allah (Kej. 1:26-27). Sebagai pembawa citra, anak-anak juga diciptakan untuk beribadah. Sejak kecil, setiap manusia diciptakan untuk memberikan pujian. Keinginan kita sebagai orang Kristen adalah untuk memunculkan generasi yang terpesona oleh Allah, ditangkap oleh dunia dan karya-Nya, dan selalu membicarakannya satu sama lain (Mzm. 145:3-7).

2. Anak-anak kita jatuh dan berdosa.

Mereka mendiami dunia yang dirusak oleh dosa, kejahatan, penderitaan, dan kematian; mereka merasakan sakitnya. "Terkadang, orang berbicara tentang berasal dari keluarga yang disfungsional," tulis Robert Plummer. "Kenyataannya adalah, karena dosa, kita semua 'disfungsional' pada tingkat yang paling dalam."

Anda mungkin pernah melihat program anak-anak di mana mammoth berbulu, vampir, monster, alien, dan burung kenari yang tumbuh terlalu besar telah menyerbu sebuah sisi jalan di Manhattan. Dalam kecemerlangannya, Jim Henson mengambil beberapa ketakutan terbesar kita dan menjadikannya lucu dan mendidik. Teror ramah anak yang hidup bersama di Sesame Street seharusnya mengingatkan kita pada realitas tersembunyi masa kanak-kanak. Anak-anak adalah anugerah yang mulia dan indah dari Allah, tetapi di dalam setiap anak -- di balik kelucuannya -- ada hati yang jatuh yang bengkok sejak saat pembuahan.

Sering kali, anak-anak kita bertingkah seperti monster yang menghancurkan set panggung Guy Smiley yang malang. Setiap anak adalah pendosa. Mungkin sulit bagi kita untuk berbicara langsung dengan anak-anak tentang hal ini, tetapi bahkan mereka harus dihadapkan dengan kenyataan kehancuran mereka. Charles Spurgeon mengatakannya dengan baik:

"Jangan menyanjung anak dengan sampah khayalan tentang sifatnya yang baik dan perlu dikembangkan. Katakan padanya dia harus dilahirkan kembali. Jangan dukung dia dengan kemewahan kepolosannya sendiri, tetapi tunjukkan padanya dosanya. Sebutkan dosa-dosa kekanak-kanakan yang menjadi kecenderungannya, dan berdoalah agar Roh Kudus mengerjakan keyakinan di dalam hati dan hati nuraninya."

Bahkan, anak-anak pun menukar kesenangan dalam kemuliaan Allah dengan kesenangan dalam kenikmatan sesaat (Rm. 1:21; 3:23). Pikirkan saja apa yang terjadi ketika anak-anak disuruh berhenti bermain untuk mandi atau tidur. Ada pertempuran untuk kesukaan yang terjadi di hati anak-anak. Ya, anak-anak membutuhkan kenyamanan, perhatian, dan sentuhan penyembuhan. Akan tetapi, mereka juga membutuhkan koreksi yang jujur, karena hanya ketika anak-anak melihat kengerian dosa mereka, mereka akan melihat kebutuhan akan penebusan. Seperti yang diperingatkan Spurgeon: "Jangan ragu untuk memberi tahu anak tentang kehancurannya; atau dia tidak akan menginginkan solusinya."

3. Penebusan datang untuk anak-anak melalui Yesus.

Ingatlah, Yesus sendiri berkata, "Biarkanlah anak-anak kecil itu. Jangan menghalangi mereka datang kepada-Ku sebab Kerajaan Surga adalah milik orang-orang yang seperti anak-anak kecil ini" (Mat. 19:14, AYT). Teguran Yesus terhadap teman-teman-Nya yang akan menjauhkan anak-anak harus menginspirasi kita untuk memasukkan anak-anak ke dalam kehidupan komunitas gereja kita. Kita harus mengundang, bahkan anak-anak paling bungsu untuk beriman. Kita perlu membantu setiap anak melihat bahwa Kristus adalah satu-satunya harapan mereka. Anak-anak membutuhkan kita untuk membantu mereka melihat keluar dari diri mereka sendiri kepada keselamatan yang Yesus tawarkan.

Melalui program sekolah Alkitab liburan, banyak dari kita telah dilatih untuk menekankan ABC pada anak-anak: (Admit) mengakui bahwa Anda adalah orang berdosa, (Believe) percaya kepada Yesus, dan (Confess) mengaku percaya kepada-Nya. Kita menemukan pola ini dalam Kitab Suci (Rm. 10:9-10), dan tidak ada yang salah dengan itu selama kita menjelaskan bahwa keselamatan bukanlah tentang apa yang kita lakukan, tetapi tentang apa yang telah dilakukan Kristus.

Jika anak-anak akan bergabung dengan kita sebagai saudara dan saudari dalam kemuliaan, mereka harus mendengar Injil sekarang.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Namun, jika kita hanya berbicara dengan anak-anak tentang apa yang harus mereka lakukan, kita berisiko membingungkan atau mengecilkan hati mereka. Ketika seorang anak menjadi sadar akan dosa pribadinya, ia mungkin menjadi introspeksi dan khawatir, "Apakah saya sudah cukup banyak berbuat? Jika saya berbohong, apakah itu berarti saya tidak benar-benar mencintai Yesus?" Apa yang telah Yesus lakukan bagi kita adalah hal yang paling penting -- jauh lebih penting daripada apa yang kita lakukan. Dia menyelamatkan kita; kita tidak menyelamatkan diri kita sendiri. Jadi, kita juga membutuhkan presentasi Injil yang mengajar anak-anak untuk melihat ke luar diri mereka sendiri terhadap pengampunan yang datang karena kematian Kristus yang bersifat menggantikan.

4. Dalam kekekalan, anak-anak akan berdiri bersama kita sebagai saudara dan saudari.

Ketika kita mencapai kemuliaan, realitas relasional yang paling bertahan lama adalah hubungan kita dengan Juru Selamat (Mat. 22:30). Diterima melalui penebusan Allah berarti diadopsi sebagai anak Allah, memperoleh identitas baru, yang melampaui setiap status dan hubungan duniawi. Plummer menggambarkannya seperti ini: "Jika anak-anak kita berdiri di samping kita dalam kekekalan, itu tidak akan seperti anak-anak kita tetapi sebagai saudara dan saudari kita yang ditebus dengan darah (Wahyu 7:9-12).

Jika anak-anak akan bergabung dengan kita sebagai saudara dan saudari dalam kemuliaan, mereka harus mendengar Injil sekarang. Itulah mengapa kita tidak hanya perlu mengingatkan diri kita sendiri tentang lensa Injil ini, tetapi juga mengajar anak-anak untuk melihat diri mereka sendiri berkaitan dengan kisah besar Allah. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : The Gospel Coalition
Alamat situs : https://thegospelcoalition.org/article/kids-big-story
Judul asli artikel : See Kids Through the Lens of God's Big Story
Penulis artikel : Jared Kennedy